Rumah Kenangan

Aku masih menatap tajam layar monitor kosong di depanku, diam dalam kebekuan seorang diri. Tak satu katapun terlintas dalam benakku. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar. Masih saja tak mengerti, masih saja tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Aku adalah perempuan paruh baya yang hidup seorang diri dalam duniaku. Kehidupan normal dalam indahnya berkeluarga sudah aku lewati beberapa tahun yang silam. Suamiku sudah terlebih dahulu meninggalkan aku, Tuhan memanggilnya saat usianya menjelang 50 thn karena serangan jantung. Begitu juga Rangga, putra kami satu-satunya yang harus berpulang karena kecelakaan lalu lintas. Saat pulang sekolah, pengemudi angkot yang sedang mabuk menabraknya tanpa ampun, dan membuat anakku terpental jatuh ke dalam sungai yang sedang mengalir deras karena hujan semalaman. Karena Rangga tidak mahir berenang, seketika itu juga arus sungai menelannya. Jenasahnya baru di ketemukan esok hari, terbawa hingga 2 kilometer dari tempat kejadian. Dan itu terjadi 4 tahun yang lalu.

Saat itu aku merasa habis sudah episode hidupku bersama orang-orang yang kucintai. Aku merasa begitu sendiri dan betapa pahit hidup yang aku jalani. Kadang dalam diamku aku bertanya kepada Tuhan. Mengapa tidak Engkau bawa serta aku untuk pulang kembali kerumahMu, mengapa harus aku yang tinggal diam sendiri tanpa belahan hati dan buah hatiku. Adilkah Tuhan ...aku menjalani hidup ini. Banyak pertanyaan yang berkelebat dalam pikiranku waktu itu.

Hingga pada akhirnya aku menyadari, jika Tuhan masih mau aku hidup, berarti ada satu misi dariNya yang belum aku selesaikan. Tapi apa? Entahlah, sampai saat ini aku masih saja menjalani hidupku yang sepertinya begitu-begitu saja....

Aku adalah perempuan paruh baya yang hidup seorang diri dalam duniaku, dan ini sudah kujalani hampir empat tahun lamanya. Aku masih saja mencari jawaban, mengapa aku harus tinggal sendiri, tanpa mereka yang aku sayangi.

Hidupku hanya seputar rumah, tempat ibadah dan pasar. Ya, karena aku keluar rumah hanya untuk ke tempat ibadah dan belanja kepasar tiap dua hari sekali. Membosankan dan monoton. Kegairahanku sudah mati.

Hampir enam bulan yang lalu....seperti biasa, aku berjalan kaki ke pasar. Jaraknya yang hanya 100 m dari rumah tidak akan membuatku lelah jika harus berjalan kaki. Aku selalu menyapa tetangga kiri kanan yang aku kenal. Ataupun hanya berbagi senyum dengan orang - orang yang kebetulan bertatap mata denganku. Tiba- tiba saja pandanganku beradu dengan seorang nenek tua yang usianya mungkin 10 tahun di atasku. Rasanya baru kali ini kutemui..... Dengan jarik yang robek disana-sini dan baju kebaya yang sudah sangat lusuh.... dia sedang menikmati sarapan nasi bungkus. Sambil duduk di pinggir warung makan kecil di sudut pasar.

Entahlah .... secara naluri aku masuk ke warung itu dan membeli lauk...aku jadi mengurungkan niat untuk pergi kepasar. Sebenarnya hanya satu tujuanku, ingin berbincang-bincang dengan nenek itu. Setelah selesai membeli lauk, aku duduk di kursi yang berada di luar warung itu. Nenek itu masih berada disana dan masih saja asyiik dengan nasi bungkusnya.Aku coba untuk menyapa....

"Mbah... mau kemana?"
"Cari kerjaan bu..... siapa tahu di warung ini butuh tukang cuci piring."
Haahhhh... aku terheran-heran... dengan usia setua itu, mana mungkin dia dipekerjakan? tenaganya saja sudah begitu lemah.... ahhhh rasa simpatiku muncul dengan sendirinya, melihat nenek itu bersemangat mencari kerja. sedang aku ?????
"Memang si mbah nggak dimarahin sama anak - anaknya?"
"Aduuh bu... mbah ini sudah nggak punya siapa-siapa lagi, luntang-lantung sendiri di jalan, yang penting masih bisa dapat makan saja sudah bersyukur...."
Aku benar-benar terusik dengan jawaban si mbah ini..... yang ternyata bernama Sumarni.
"Mbah ikut saya saja...kebetulan saya juga sendiri di rumah, mbah bisa temani saya. Bagaimana? Mau ya mbah?"
Entah mengapa tiba-tiba aku menawarkan rumahku untuk menjadi tempat tinggal buat mbah Marni... Ah biar saja, tokh selama ini aku sendiri....
Tanpa berpikir panjang, mbah Marni mengiyakan ajakanku. Dan jadilah pagi itu aku pulang dengan mbah Marni, perempuan tua yang aku temui di jalan tanpa pernah kenal sebelumnya, dan sekarang akan tinggal bersamaku.
Aku hanya menyebut nama Tuhan dengan keputusanku ini.
Enam bulan berlalu dan enam bulan itu pula aku menemukan nyawa kedua dalam hidupku.
Sekarang rumahku tidak lagi sepi seperti dulu, karena kehadiran mbah Marni, kurasakan sebagai jawaban atas pertanyaanku selama ini. Mbah Marni adalah seorang yang ulet dan tidak mau diam...jauh dari yang aku bayangkan, ternyata di usianya yang sudah senja, dia masih bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik.... hingga suatu malam dia mangatakan sesuatu yang membuatku terkejut dan semakin hormat dengannya.

"Bu Singgih.... maaf sebelumnya. Rumah bu Singgih kan besar, rasanya kok sepi ya kalau hanya ditinggali kita berdua. Kalau boleh si mbah usul, di pasar kan banyak juga anak-anak dan ibu-ibu kuli panggul yang nggak punya rumah, kita ajak saja mereka kemari, pasti mereka senang. Bu Singgih kan juga pensiunan guru, nanti bu Singgih ajari mereka belajar. Tapi ini cuman usul ya bu, semuanya terserah bu Singgih."

Akhirnya, berawal dari sana aku merasa bahwa apa yang disampaikan mbah Marni adalah sesuatu hal yang patut untuk dilakukan... hampir 3.5 tahun aku tertidur dengan kesendirianku. Jika memang ini jalan untuk aku menemukan kegairahan dalam hidup, apa lagi yang aku tunggu... Dan memang benar, lima bulan terakhir ini aku merasa hidupku kembali ... jika dulu aku melakukan semua untuk suami dan anakku, sekarang aku lakukan pekerjaan ini untuk anak-anak yang sudah aku anggap anak-anakku. Hingga pada akhirnya, rumah kenanganku menjadi rumah singgah untuk anak-anak terlantar..... Aku menemukan kembali jiwaku yang hampa, aku sama sekali tidak keberatan jika kenangan indah rumah ini kini berubah menjadi rumah kenangan untuk semua orang.

Aku adalah perempuan paru baya yang tinggal sendiri dalam duniaku. Tapi kini senyum hatiku tak pernah lelah untuk mereka... dunia baruku...
Dan aku bisa kembali menyalakan layar komputerku yang sudah lama tak kusentuh, sekedar membuat catatan untuk rumah kenangan ini. Dan layar monitor di depaku tidak lagi kosong karena ada cerita mengalir di rumah kenanganku ini, rumah singgah untuk mereka..
Ijinkan aku lebih lama hidup dengan mereka..
"waktu ini tdk dapat diputar ulang
lakukanlah hal-hal baik setiap waktunya
satu senyum bisa mengawali hari ini satu kebaikan kecil..
dan kebaikan-kebaikan besar akan datang kemudian
jadikanlah itu suatu kebiasaan...
lakukanlah ini sebagai kepanjangan tangan Tuhan
supaya mereka semua tahu bahwa Tuhan itu nyata adanya...."

By. Sisilia Liesty


Artikel Yang Berhubungan:

Tidak ada komentar:

Informasi Umum - Kumpulan Artikel Bebas Baca © 2009 - Bookmarking