Al-Asbun Manfaatulngawur - Pidi Baiq


Al-Asbun Manfaatulngawur
Oleh: Pidi Baiq
ISBN : 9789790660878
Rilis : 2010
Halaman : 173p
Penerbit : DAR Mizan
Bahasa : Indonesia

“Masyarakat dengan jumlah orang bodohnya yang banyak, maka demikianlah kemenangan ditentukan oleh mereka yang bodoh. Masyarakat dengan jumlah orang cerdasnya yang banyak, maka demikianlah kemenangan pemilu yang berkualitas.” [Rapia, 6:16]

Tidak sanggup rasanya memberi judul resensi buku ini selain judul aslinya. Buku yang lahir dari penulis yang sudah tersohor sebelumnya dengan buku seri Drunken, Pidi Baiq.
Dilayout dengan format seperti halnya kitab-kitab yang dilengkapi dengan ayat-ayat, kemudian dibuat kalimatnya dengan gaya penyampaian juga seperti penyampaian di ayat yang ada di dalam kitab-kitab. Juga tak ketinggalan ilustrasi-ilustrasi menarik “a la kitab”. Lengkaplah sudah, buku ini seperti halnya sebuah kitab (suci).

Tapi jangan buku-buru terkecoh oleh tampilan layout dan text-nya yang dibingkai oleh gambar semut beriring, karena dari covernya saja, terlihat seekor ayam yang sedang membuang kotoran (waduh!).
Kemudian telusuri lagi, apa isi yang ada dalam setiap ayat-ayatnya. Maka demikianlah buku ini sepertinya takkan pernah menjadi kitab suci ketika Anda membacanya karena yang ada Anda akan tersenyum dengan kandungan yang ada di dalamnya.

Isi buku ini adalah dialog-dialog yang dilakukan oleh tokoh utama dengan beberapa tokoh lain yang menghiasi kisah ini, termasuk anak-anak dan istrinya. Tak salah lagi tokoh utamanya adalah penulis buku ini sendiri. Jadi kadang penulis berperan seperti hal-nya guru dan murid-muridnya kadang juga sebagai suami dan ayah (beneran).

Topik pembasahan bisa beraneka ragam, mulai dari menyindir orang-orang kaya, kemudian membiacarakan agama dan budaya di masyarakat hingga kehidupan rumahtangga dan kisah cinta dengan sang istri.
Berikut ini petikan dialog dengan sang istri dalam Bab ke 11. 

Sawah: 11:17 Dia kemudian berkata:
“Maka, katakanlah sekali lagi, Suamiku, apa yang pernah engkau katakana tentang cinta yang kokoh.”
Maka, kataku kepadanya: “Cinta yang kokoh pada masa pacaran, adalah yang menyukai kelebihan pasangannya. Cinta yang kokoh setelah menikah adalah yang memaklumi kekurangan pasangannya.”
Dia berseru: “Yess! Demikianlah yang engkau katakan.” 

Topik pembicaraan yang beragam ini, kita seakan digiring kepada kisah seribu satu malam di mana setiap malam berganti cerita. Dan sesungguhnya setiap pembicaraan mengandung sesuatu, semacam perenungan ringan kejadian yang pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah-kisah yang dibicarakan akan lebih banyak membuat kita tersenyum dikulum, tidak sampai terbahak-bahak seperti hal-nya kita membaca seri Drunken Monster yang terdahulu jika Anda pernah membacanya.

Mungkin maksud Pidi Baiq ini seperti semacam tulisan sindiran satir tentang kondisi lingkungan dan budaya yang ada di sekitar kita meskipun tidak sampai terjebak pada kritik sosial. Kalau dalam kaver bukunya sendiri disebut sebagai Cetusan-Cetusan Ekskatik.

Tapi kembali ke judulnya lagi, yang memiliki definisi asal bunyi saja, maka buku ini janganlah dianalis terlalu serius, biarlah kita menikmati saja buku ini sebagai sesuatu yang menghibur. Seperti halnya kita berbicara dengan teman ketika melepas penat setelah lelah bekerja, kita bicara-bicara ringan yang menghibur saja. :)


Artikel Yang Berhubungan:

Tidak ada komentar:

Informasi Umum - Kumpulan Artikel Bebas Baca © 2009 - Bookmarking