Keraton Kasepuhan Cirebon

Konon, Cirebon berasal dari kata ‘caruban’, yang artinya tempat pertemuan atau persimpangan jalan. Ada juga yang mengatakan Cirebon berasal dari kosa kata dalam bahasa Sunda ‘Ci’ yang berarti sungai, dan ‘rebon’ yang berarti udang. Ini sesuai dengan makanan khas Cirebon yang banyak memakai bahan baku udang. Mana yang benar? Mungkin kedua-duanya ….

Di Cirebon terdapat tiga keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan. Dari ketiga keraton tersebut, Keraton Kasepuhan adalah keraton yang kondisinya paling terawat dengan baik. Keraton tertua di Cirebon adalah Pakungwati, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1445. Pada tahun 1529 keraton Pakungwati diperluas menjadi Keraton Kasepuhan. Penguasa pertama Keraton Kasepuhan adalah Syeh Syarif Hidayatullah, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.





Keraton Kasepuhan dikelilingi pagar dan gapura yang terbuat dari susunan bata merah. Arsitektur gapura Keraton Kasepuhan memiliki kemiripan dengan candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terdapat di Trowulan, Mojokerto. Terlihat ada pengaruh Jawa Hindu disana. Dinding dan gapura bata merah ini dibangun tanpa menggunakan semen. Sebagian masih asli, tetapi sebagian sudah merupakan hasil renovasi. Adapun bangunan keraton sendiri merupakan perpaduan antara Portugis, Jawa, dan Cina.



Ciri utama keraton-keraton di Cirebon adalah terdapatnya piring-piring keramik Cina di seluruh bangunan. Piring-piring ini dipasang mulai dari tembok pagar hingga dinding-dinging dalam keraton. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan keraton-keraton Cirebon dengan negeri Cina.



Di halaman depan terdapat patung sepasang harimau berwarna putih, yang merupakan lambang kerajaan Prabu Siliwangi. Bendera dan lambang kerajaan Cirebon sebelum zaman penjajahan berupa kaligrafi yang juga berbentuk harimau, bernama Macan Ali.





Bangunan di bagian dalam keraton Kasepuhan sangat indah dan masih terawat dengan baik. Kursi-kursi kayu jati berukir warna kuning gading berjajar rapi, dengan lampu-lampu kristal dan dinding berukir indah. Di bagian dalam terdapat dinding dengan ukiran bunga teratai merah. Pemandu kami menjelaskan makna bunga teratai merah tersebut, juga piring-piring keramik Cina yang dipasang berderet di bagian bawah dinding (sayang, saya lupa tidak mencatatnya, dan sekarang sudah melayang semua dari ingatan saya …). Sebenarnya saya ingin mendapatkan penjelasan rinci tentang segala sesuatu isi keraton, tetapi karena saya pergi bersama banyak orang yang tidak semuanya ‘gila sejarah’ seperti saya, akhirnya saya tidak sempat bertanya dan mencatat apa-apa. Saya harus mentolerir keinginan dan minat anggota rombongan yang lain (itulah sebabnya, saya lebih suka pergi sendiri, supaya bebas dan tidak mengganggu orang lain yang minatnya beda … hehehe... :D

Salah satu koleksi Keraton Kasepuhan yang sangat istimewa adalah kereta Singa Barong. Kereta ini dihias dengan ornamen kepala gajah, dengan belalai memegang trisula. Kereta juga dihias sayap garuda dan ekor naga. Hebatnya, kereta ini dilengkapi dengan ’shock breaker’ untuk meredam goncangan yang terjadi pada saat kereta melaju. Dan yang mengagumkan, kereta ini dibuat oleh bangsa kita sendiri (tidak seperti kereta-kereta di Keraton Yogyakarta yang hampir semuanya bikinan Inggris, Belanda dan Jerman).

Di Keraton Kasepuhan terdapat museum barang kuno, yang antara lain menyimpan piring antik yang merupakan cindera mata dari Cheng Hoo, utusan Kaisar Ming dari Cina. Sudah lama saya tertarik pada Cheng Hoo, pelaut Tiongkok abad ke-15 dengan pasukannya yang hebat, dan ingin melihat piring cindera mata yang dipersembahkannya ketika singgah di Keraton Cirebon. Tetapi karena tergesa-gesa, kami tidak sempat masuk ke Museum Keraton Kasepuhan.



Kami hanya sempat melihat lukisan tiga dimensi Prabu Siliwangi. Lukisan ini memang istimewa. Jika kita melihat lukisan ini dari arah kiri, mata dan ujung jari kaki Prabu Siliwangi terlihat menghadap ke kiri (ke arah kita). Namun kalau kita bergeser ke arah kanan lukisan, mata dan ujung jari kaki itu pun terlihat menghadap ke kanan (seolah-olah mengikuti kita). Lukisan semacam ini juga terdapat di Keraton Yogyakarta, hasil karya Raden Saleh, pelukis legendaris Indonesia. Saya tidak tahu siapa pelukis yang membuat lukisan Prabu Siliwangi di Cirebon ini. Tapi kalau melihat garis-garis lukisannya, pelukis Prabu Siliwangi ini masih beberapa tingkat di bawah Raden Saleh...

Masih banyak koleksi berharga Keraton Kasepuhan yang belum sempat saya lihat. Mudah-mudahan suatu saat kelak saya punya waktu yang lebih longgar untuk bisa mengeksplor semuanya dengan lebih mendalam …

Oh ya …. selain ke Keraton Kasepuhan, jika anda pergi ke Cirebon, jangan lupa mampir ke Trusmi. Di sini terdapat banyak toko yang menjual batik-batik Cirebon, baik dengan motif yang masih sepenuhnya asli (disebut motif ‘Mega Mendung’), maupun motif-motif baru. Bahannya bermacam-macam, mulai dari katun, sutera, serat nanas, hingga serat kayu. Harganya pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Tinggal memilih yang sesuai selera dan kantong …

Nah, kalau perut sudah keroncongan, sangat sedap menikmati nasi jamblang atau empal gentong. Apa itu? Coba saja sendiri …. ;)

Artikel Yang Berhubungan:

8 komentar:

fri mengatakan...

ni kota ku

makasih dah referensi

Sugianto mengatakan...

dengan mengenal semiman yang dimiliki bangsa ini , berarti kita telah menghormati hasil kerja kerasnya

Dado mengatakan...

sungguh mengasikan cerita perjalanan ke cirebon, ternyata di Cirebon banyak juga tempat wisatanya, jadi pengen kesana. he..he..he..

poni mengatakan...

Yg melukis Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi seorang pelukis dari Garut mas. Itu sih yg saya denger dari Abdi Dalem, yg mengantar kami wkt itu. wkt itu kami ber-4 dari jakarta, xixixii...kayaknya guide kami lumayan cape jwb byk pertanyaan dari kita2 :D

maspekok mengatakan...

kalo aku masih ada titisan darah kesepuhan cirebon

ayu mengatakan...

thanks ya atas info....akhirnya dapet juga referensi ttg kasepuhan cirebon

nur hasanah agustina mengatakan...

harusnya cirebon dapat menjadi sebuah tempat wisata yang menarik jika kita sebagai anak bangsa mampu menjaga aset budaya cirebon sperti gua sunyaragi, keraton kesepuhan, dll.
ini pesan untuk anak bangsa.

Rully Hertantio Saidin mengatakan...

Saya sangat bersykur karna lahir dan besar di kota udang ini, beraneka watak dan wujud manusia serta agama, budaya INSYA ALLAH ada di kota udang ini.
Mari ita sama-sama menjaga dan menghormati budaya bangsa besar ini, jika bukan kita siapa lagi yang hendak menjaga dan melestarikannya.
Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang rukun, ramah, sopan, dan mempunyai nilai luhur yang tinggi.

Informasi Umum - Kumpulan Artikel Bebas Baca © 2009 - Bookmarking